KSE Scholarship Program Opening Ceremony Academic Year 2026-2027 “Bridging Horizons: Democratizing Education for Tomorrow’s Leaders”

KSE Scholarship Program Opening Ceremony Academic Year 2026-2027 “Bridging Horizons: Democratizing Education for Tomorrow’s Leaders”

Sabtu 3 Oktober 2026,  – Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) secara resmi menggelar KSE Scholarship Program Opening Ceremony Academic Year 2026–2027 dengan tema “Bridging Horizons: Democratizing Education for Tomorrow’s Leaders”. Acara yang berlangsung secara daring pukul 07.45 – 12.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran pengurus, pendiri, BPH universitas, serta 1.000 penerima beasiswa (beswan) baru dari 35 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di seluruh Indonesia.

Momentum ini sekaligus menandai perjalanan 31 tahun KSE dalam membuktikan komitmennya bagi negeri, di mana saat ini KSE mampu mendukung lebih dari 2.500 mahasiswa setiap tahunnya dengan total alumni yang telah mencapai 30.000 orang.

Dalam sambutannya, Ketua KSE Adrian Karim Januar menyampaikan ucapan selamat datang kepada para beswan baru yang resmi bergabung. Beliau menegaskan bahwa tokoh utama KSE adalah penerima beasiswa dan alumni. Para mahasiswa diajak untuk bersyukur serta menjadikan status penerima beasiswa sebagai pendorong semangat untuk menjadi pelopor keteladanan, pengabdi masyarakat, dan pembelajar sepanjang hayat.

“Harapan kami, KSE terus bertumbuh dalam kebaikan dan para mahasiswa dapat merasakan pengalaman berharga, tidak hanya untuk pengembangan diri sendiri tetapi juga untuk memberikan dampak nyata kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.

Session 1: Connecting Minds through AI Sesi diskusi ini dipandu oleh moderator Firdila Sari (Vice Chairman II KSE) dan menghadirkan tiga pembicara utama:

F. Chapman Taylor (Advisory Board KSE): Menekankan pentingnya menjaga persatuan dan memanfaatkan jaringan (networking) luas KSE di seluruh Indonesia agar potensi kemajuan bersama semakin besar. Beliau mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat (tool) sehingga mahasiswa harus bijak menguasai serta mewaspadai dampaknya. Chapman juga memuji ketahanan (resilience) para beswan yang tangguh menghadapi tantangan hidup, serta berpesan agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) yang sabar beradaptasi dengan perubahan zaman.

Indra Gunawan (Director & Chief Commercial Officer Protelindo Group): Menekankan pentingnya menjaga fundamental cognitive capability—seperti perhatian (attention), ingatan (memory), literasi, dan numerasi. Beliau memperingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai alat instan yang merusak proses berpikir kritis. Kemampuan berpikir analitis dan kritis inilah yang membedakan individu yang kariernya akan sukses dan berkelanjutan.

Iwan Salim (Group Director Corporate Finance & Communication BUMA International Group): Menyoroti bahwa AI bekerja berdasarkan pemrograman dari pembuatnya yang sering kali membawa bias nilai. Mahasiswa Indonesia diingatkan untuk tetap memegang teguh nilai, budaya, dan kearifan lokal sebagai pembanding. “Bukan AI yang akan menggantikan manusia, melainkan manusia yang mampu mengontrol AI dengan bijak yang akan menggantikan mereka yang tidak bisa mengelolanya,” tegasnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi Apresiasi Paguyuban KSE Terbaik 2025–2026 yang dipandu oleh Rendi Seftian, Wakil Ketua III Yayasan Karya Salemba Empat. Sebagai wujud apresiasi atas keaktifan dan kontribusi dalam mengelola kegiatan mahasiswa di daerah, KSE memberikan penghargaan kepada Paguyuban KSE Terbaik:

Paguyuban Terbaik 1: Paguyuban KSE Universitas Tadulako (Untad)

Paguyuban Terbaik 2: Paguyuban KSE Universitas Jambi (UNJA)

Paguyuban Terbaik 3: Paguyuban KSE Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Session 2: From Scholarship to National Impact Sesi kedua yang dipandu oleh Nur Hafidzah Oktavia (Chairman KSE Alumni Association) menyoroti sinergi antar-generasi alumni untuk keberlanjutan dampak sosial:

Mirza Adityaswara (Co-founder KSE): Mengajak alumni untuk tetap terlibat aktif dalam memperkuat sistem organisasi yang inklusif. Beliau mengimbau alumni, sekecil apa pun kemampuannya saat sudah bekerja, untuk menyisihkan donasi guna membantu keberlanjutan beasiswa bagi generasi penerus.

Zulfikar A. Ali (Alumni KSE ITS): Menekankan bahwa KSE bukan sekadar bantuan finansial, melainkan wadah membangun networking dan melatih diri. Beliau menceritakan bagaimana koneksi dan nilai-nilai sharing, networking, and developing yang dipupuk sejak mahasiswa menjadi jembatan penting dalam kariernya di industri Oil and Gas serta menjadi legasi positif bagi masyarakat.

Rangkaian acara kemudian ditutup secara resmi dengan sesi foto bersama seluruh pembicara, moderator, serta peserta.

Informasi

Artikel Terkait